Kadang aku
harus meninggalkan cinta ini sementara. Entah karena aku sudah tak cinta atau
aku sudah tak sanggup. Seorang wanita yang menjaga cintanya sendirian akan
sulit bertahan bila arusnya sederas air yang terjun ke laut. Matahari juga begitu,
kadang meninggalkan langit dan langit menjadi malam bersama bulan. Walaupun dengan
sosok yang berbeda, setidaknya langit masih ada dan tetap menjadi langit. Sekuat
apapun tenaga yang kupunya, aku tetap hanyalah manusia biasa yang terkadang tak
bisa mendera luka berat sendirian, aku butuh seseorang yang kini tak ada. Kamu yang
dulu menghabiskan banyak senja denganku, kini mungkin menghabiskannya dengan
seseorang yang lebih mencintaimu. Aku ingat, saat terucap kalimat menggelikan
yang membuat kita tertawa sampai meneteskan air mata, cerita-cerita aneh yang
kau buat selalu terliang saat aku sendiri dan butuh waktu senggang untuk
bercanda dengan hati. Merindu yang tak kunjung menepi kusimpan sendiri, dengan
tersenyum aku menganggap semua itu hanyalah angan yang pernah menjadi mimpi. Doaku
membuatku kuat dan terbiasa menyebrangi ratusan hari tanpa dirimu dan cintamu. Walau
kadang dalam rincian doa itu kuselipkan namamu dalam sujud panjangku, atau
dalam benak saat aku merebahkan lelahku. Mataku terus membayangkan dirimu,
entah itu didalam udara bebas saat aku melamun riang atau saat aku berjalan
sendirian.
“Karena
dirimu membuatku mengerti sejauh apa aku harus menjaga cintaku.“
Saat aku
merasa haus akan keinginananku untuk tetap bersamamu, aku meminum ramuan yang
kubuat sendiri, ramuan rasa sabar yang penuh dengan ketahanan yang mungkin kini
lebih manis dari gula dalam secangkir tehku. Aku membuatnya saat aku merasa
dunia ini begitu membuatku mengantuk karena detik-detiknya yang menjenuhkan
ragaku. Rasanya terkadang rohku ingin keluar dari tubuh dan melayang-layang
diudara untuk tau seperti apa terbang dan menghampirimu tanpa ketahuan, atau menjadi
debu yang terjatuh dipundakmu dan menetap disana selamanya. Saat aku sadar kamu
dan bebanku mempunyai berat yang sama, aku menyerah untuk menjagamu dan pergi
sementara menuju dunia yang mengharuskanku berlari didalamnya. Ini bukan
selamat tinggal, tapi aku ingin sekedar mengucapkannya, untukmu dan kenangan
kita.
Dewi Koemala,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar